BAHAN AJAR
PROSES
PENGOLAHAN LOGAM
A. Mengenal
Material dan Mineral
Material dapat
berupa bahan logam dan non logam. Bahan
logam ini terdiri dari logam ferro dan nonferro.
Bahan
logam ferro diantaranya besi, baja,
dan besi cor, sedangkan logam nonferro (bukan besi) antara lain emas, perak,
aluminium, tembaga, kuningan, dan timah putih .
Bahan
non logam dapat dibagi menjadi bahan organik (bahan yang berasal dari alam) dan
bahan anorganik. Selain pengelompokan diatas, material juga dapat dikelompokkan
berdasarkan unsur-unsur kimia, yaitu unsur logam, nonlogam dan metalloid.
Dengan mengetahui unsur–unsur kimia ini, kita dapat menghasilkan logam yang
kuat dan keras sesuai kebutuhan.
1.
Berbagai
Macam Sifat Logam
Logam mempunyai beberapa sifat
antara lain: sifatmekanis, sifat fisika, sifat kimia dan sifat pengerjaan.
Sifat mekanis adalah kemampuan suatu logam untuk menahan beban yang diberikan
pada logam tersebut. Pembebanan yang diberikan dapat berupa pembebanan statis
(besar dan arahnya tetap), ataupun pembebanan dinamis (besar dan arahnya
berubah). Yang termasuk sifat mekanis pada logam, antara lain: kekuatan bahan
(strength), kekerasan elastisitas, kekakuan, plastisitas, kelelahan bahan,
sifat fisika, sifat kimia, dan sifat pengerjaan.
a. Kekuatan (strength) adalah kemampuan
material untuk menahan tegangan tanpa kerusakan. Beberapa material seperti baja
struktur, besi tempa, alumunium, dan tembaga mempunyai kekuatan tarik dan tekan
yang hampir sama. Sementara itu, kekuatan gesermya kira-kira dua pertiga
kekuatan tariknya. Ukuran kekuatan bahan adalah tegangan maksimumnya, atau gaya
terbesar persatuan luas yang dapat ditahan bahan tanpa patah. Untuk mengetahui
kekuatan suatu material dapat dilakukan dengan pengujian tarik, tekan, atau
geser.
b. Kekerasan (hardness) adalah
ketahanan suatu bahan untuk menahan pembebanan yang dapat berupa goresan atau
penekanan. Kekerasan merupakan kemampuan suatu material untuk menahan takik
atau kikisan. Untuk mengetahui kekerasan suatu material digunakan uji Brinell.
c. Kekakuan adalah ukuran
kemampuan suatu bahan untuk menahan perubahan bentuk atau deformasi setelah
diberi beban.
d. Kelelahan bahan adalah
kemampuan suatu bahan untuk menerima beban yang berganti-ganti dengan tegangan
maksimum diberikan pada setiap pembebanan.
e. Elastisitas adalah kemampuan
suatu bahan untuk kembali ke bentuk semula setelah menerima beban yang
mengakibatkan perubahan bentuk. Elastisitas merupakan kemampuan suatu material
untuk kembali ke ukuran semula setelah gaya dari luar dilepas. Elastisitas ini
penting pada semua struktur yang mengalami beban yang berubah-ubah terlebih
pada alat-alat dan mesin-mesin presisi.
f. Plastisitas adalah kemampuan
suatu bahan padat untuk mengalami perubahan bentuk tetap tanpa ada kerusakan.
g. Sifat fisika adalah karakteristik
suatu bahan ketika mengalami peristiwa fisika seperti adanya pengaruh panas
atau listrik. Yang termasuk sifat-sifat adalah sebagai berikut: Titik lebur,
Kepadatan, Daya hantar panas, dan daya hantar listrik, kemampuan suatu logam
dalam mengalami peristiwa korosi. Korosi adalah terjadinya reaksi kimia antara
suatu bahan dengan lingkungannya. Secara garis besar ada dua macam korosi,
yaitu korosi karena efek galvanis dan reaksi kimia langsung.
h. Sifat pengerjaan adalah suatu
sifat yang timbul setelah diadakannya proses pengolahan tertentu. Sifat
pengerjaan ini harus diketahui terlebih dahulu sebelum pengolahan logam
dilakukan.
2. Mineral
Mineral merupakan suatu bahan
yang banyak terdapat di dalam bumi, mempunyai bentuk dan ciri-ciri khusus serta
mempunyai susunan kimia yang tetap. Mineral memiliki ciri-ciri khas antara
lain:
a. Warna, mineral mempunyai warna
tertentu, misalnya malagit berwarna hijau, lazurit berwarna biru, dan ada pula
mineral yang memiliki bermacam-macam warna misalnya kuarsa.
b. Cerat, merupakan warna yang
timbul bila mineral tersebut digoreskan pada porselen yang tidak dilicinkan.
c. Kilatan merupakan sinar suatu
mineral apabila memantulkan cahaya yang dikenakan kepadanya. Misalnya emas,
timah, dan tembaga yang mempunyai kilat logam.
d. Kristal atau belahan merupakan
mineral yang mempunyai bidang datar halus. Misalnya, seng, bentuk kristalnya
dapat dipecah-pecah menjadi beberapa kubus dan patahannya akan terlihat dengan
jelas. Setiap mineral memiliki bentuk kristal yang berbeda-beda. Contohnya
bentuk kubus pada galmer (bilih seng), bentuk heksagonal (enam bidang) pada
kuarsa dan lain-lain.
e. Berat jenis, mineral mempunyai berat jenis
antara 2 – 4 ton/m2. Berat jenis ini akan berubah setelah diolah menjadi bahan.
3. Berbagai Jenis Sumber Daya
Mineral
a. Unsur-unsur Logam Unsur-unsur
logam dibagi lagi dalam dua kelompok menurut banyaknya, yaitu yang berlimpah di
kerak bumi seperti besi, alumunium, mangan, dan titanium, dan yang sedikit
terdapat di alam seperti tenbaga, timah hitam.
b. Unsur-unsur Nonlogam
Unsur-unsur nonlogam (nonmetallic) dapat dibagi menjadi empat kelompok
berdasarkan kegunaannya, antara lain :
c. Natrium klorida, kalsium
fosfat, dan belerang merupakan bahan- bahan utama industri-industri kimia dan
pupuk buatan.
d. Pasir,
batu kerikil, batu hancur, gips, dan semen terutama dipakai sebagai bahan-bahan
bangunan dan konstruksi lainnya.
e. Bahan bakar fosil, yaitu yang
berasal dari sisa-sisa tanaman dan binatang seperti batubara, minyak bumi, dan
gas alam. Persediaan energi kita sekarang sangat bergantung pada bahan-bahan
ini.
f. Air merupakan sumber mineral
terpenting dari semuanya yang terdapat melimpah di permukaan bumi. Tanpa air
tidak mungkin kita dapat menanam dan menghasilkan bahan makanan.
1) Pemurnian Mineral
Mineral pada awalnya ditemukan di
alam masih bercampur dengan mineral lain sehingga perlu dilakukan proses
pemurnian untuk mendapatkan satu bentuk mineral. Pemurnian mineral adalah
proses memisahkan satu bentuk mineral dari mineral-mineral lainnya melalui satu
proses dan cara tertentu.
a.
Proses
pemurnian bijih besi Melebur dan mengoksidasi besi adalah proses kimia yang
sederhana. Selama proses itu, karbon dalam bentuk kokas dan oksida besi
bereaksi pada suhu tinggi, membentuk metalik iron (besi yang bersifat logam)
dan gas karbon dioksida. Karena bijih besi jarang ada yang murni, batu kapur
(CaCO3) harus juga ditambahkan sebagai imbuh (flux) agar bercampur dengan
kotoran-kotoran dan mengeluarkannya sebagai slag (terak).
Gambar 1 : Dapur pengolahan biji besi menjadi
besi
Sejak
abad ke-14 besi mulai diproduksi dalam jumlah besar dan dasar-dasar eksploitasi
industri besi secara modern sudah dimulai. Setelah itu diperoleh berbagai
penemuan dalam produksi besi, antara lain:
(a)
metode untuk memproduksi baja yang berkualitas tinggi dari besi kasar,
(b)
prosedur-prosedur tanur yang lebih efisien, termasuk juga pemakaian kokas yang
dibuat dari batu bara sebagai pengganti arang kayu, akibat semakin berkurangnya
persediaan kayu.
(c)
metode-metode untuk mereduksi bijih besi.
(d)
metode-metode untuk memamfaatkan bijih-bijih besi yang mengandung
kotoran-kotoran perusak seperti fosfor dan belerang.dan
(e)
metode-metode untuk memproses bijih besi berkadar rendah.
b. Proses
pemurnian Alumunium Proses pemurnian alumunium dengan cara memanaskan alumunium
hidroksida sampai lebih kurang 1300°C (diendapkan), akan didapatkan alumina.
Karena titik lelehnya tinggi, alumina dilarutkan ke dalam cairan klorit (garam
Na3AlF6) yang berfungsi sebagai elektrolit sehingga titik lelehnya menjadi
rendah (1000°C). Lima belas persen alumina (Al2O3) dapat diuraikan ke dalam
kriolit, sedang proses elektrolisis di sini sebagai reduksi Al2O3. Bijih
bauksit mula-mula dimurnikan terlebih dahulu dengan proses kimia dan alumunium
oksida murni diuraikan dengan elektrolisis. Bauksit dimasukkan ke dalam kauksit
soda, alumina di dalamnya membentuk natrium aluminat, bagian lain tidak
bereaksi dan dapat dipisahkan
c. Proses
pemurnian Tembaga Proses pemurnian tembaga diawali dengan penggilingan bijih
tembaga kemudian dicampur dengan batu kapur dan bahan fluks silika. Tepung
bijih dipekatkan terlebih dahulu, sesudah itu dipanggang sehingga terbentuk
campuran FeS, FeO, SiO2, dan CuS. Campuran ini disebut kalsin dan dilebur
dengan batu kapur sebagi fluks dalam dapur reverberatory. Besi yang ada larut
dalam terak dan tembaga, besi yang tersisa ditaungkan ke dalam konventor. Udara
dihembuskan ke dalam konventor selama 4 – 5 jam, kotoran-kotoran teroksidasi,
dan besi membentuk terak yang dibuang pada selang waktu tertentu. Panas oksidasi
yang dihasilkan cukup tinggi sehingga muatan tetap cair dan sulfida tembaga
akhirnya berubah menjadi oksida tembaga dan sulfat. Bila aliran udara
dihentikan, oksida bereaksi dengan sulfida membentuk tembaga blister dan
dioksida belerang. Setelah itu, tembaga ini dilebur dan dicor menjadi slab,
kemudian diolah lebih lanjut secara elektronik menjadi tembaga murni.
d. Proses
pemurnian Timah Putih (Sn) Proses pemurnian timah putih diawali dengan
memisahkan Bijih timah dan pasir dengan mencuci lalu dikeringkan. Setelah itu,
bijih itu dilebur di dalam dapur corong atau dapur nyala api dengan kokas dan
dituang menjadi balok-balok kecil.
e. Proses
pemurnian Timbal/timah hitam (Pb) Bijih-bijih timbal harus dipanggang terlebih
dahulu untuk menghilangkan sulfida-sulfida, sedang timbal dengan campurannya
yang lain berubah menjadi oksida timah hitam (PbO) dan sebagian lagi menjadi
timbal sulfat (PbSO4). Dengan menambah kwarsa (SiO2) pada sulfat di atas suhu
yang tinggi akan mengubah timbal sulfat menjadi silikat. Campuran silikat
timbal dengan oksida timbal yang dipijarkan pakai kokas kemudian dicampur
dengan batu kapur, akan menghasilkan timbal.
f. Proses
pemurnian Seng (Zn) Proses pemurnian seng diawali dengan memisahkan bijih seng
kemudian dipanggang dalam dapur untuk mengeluarkan belerang dan asam arang.
Setelah itu terjadilah oksida seng, karbonatnya terurai dan sulfidanya
dioksidasi. Bijih seng didapat dari senyawa belerang diantaranya karbonat seng
(ZnCO3), silikat seng (ZnSiO4H2O), dan sulfida seng (ZnS).
g. Proses
pemurnian Magnesium Untuk memperoleh magnesium dilakukan dengan jalan
elektrolisis, yaitu dengan cara memijarkan oksida magnesium bersama-sama dengan
zat arang (karbon) atau silisium ferro sebagai bahan reduksi. Setelah itu
magnesium dapat terpisahkan.
h. Proses pemurnian Perak Proses pemurnian
perak dilakukan dengan jalan elektrolisis bijih-bijih perak. Bijih perak yang
mengandung belerang dipanggang dahulu kemudian dicairkan. Bijih yang mengandung
timbal dihaluskan kemudian dicairkan dengan memasukkan zat asam yang banyak
sampai timbal terbakar menjadi glit-timbel dan dikeluarkan sebagai terak.
Setelah itu, hanya tertinggal peraknya saja.
i. Proses
pemurnian Platina Proses pemurnian platina tergantung pada zat-zat yang
terkandung dalam bijih-bijih logam. Bijih-bijih yang mengandung emas dikerjakan
dalam air raksa, sedangkan platina tidak dapat melarut dalam air raksa.
Berikutnya adalah dengan proses kimiawi (proses elektrolisis). Platina itu
dapat dibersihkan sampai tercapai keadaan yang murni.
j. Proses
pemurnian Nikel (Ni) Proses pemurnian nikel diawali dengan pembakaran bijih
nikel, kemudian dicairkan untuk proses reduksi dengan menggunakan arang dan
bahan tambahan lain dalam sebuah dapur tinggi. Dari proses tersebut nikel yang
didapat kurang lebih 99%. Jika hasil yang diinginkan lebih baik (tidak
berlubang), proses pemurniannya dikerjakan dengan jalan elektrolisis di atas
sebuah cawan tertutup dalam dapur nyala api. Reduktor yang digunakan biasanya
mangan dan fosfor.
B.
Mengenal Proses Pengecoran Logam
1. Pengertian
Pengecoran
(casting) adalah suatu proses penuangan materi cair seperti logam atau plastik
yang dimasukkan ke dalam cetakan, kemudian dibiarkan membeku di dalam cetakan
tersebut, dan kemudian dikeluarkan atau dipecah-pecah untuk dijadikan komponen
mesin. Pengecoran digunakan untuk membuat bagian mesin dengan bentuk yang
kompleks.
![]() |
Gambar 2 : Proses pengecoran logam
Pengecoran digunakan untuk membentuk logam
dalam kondisi panas sesuai dengan bentuk cetakan yang telah dibuat. Pengecoran
dapat berupa material logam cair atau plastik yang bisa meleleh (termoplastik),
juga material yang terlarut air misalnya beton atau gips, dan materi lain yang
dapat menjadi cair atau pasta ketika dalam kondisi basah seperti tanah liat,
dan lain-lain yang jika dalam kondisi kering akan berubah menjadi keras dalam
cetakan, dan terbakar dalam perapian. Proses pengecoran dibagi menjadi dua,
yaitu : expandable (dapat diperluas) dan non expandable (tidak dapat
diperluas).
![]() |
Gambar 3 : Logamcair sedang dituangkan
ke dalam cetakan
Pengecoran
biasanya diawali dengan pembuatan cetakan dengan bahan pasir. Cetakan pasir
bisa dibuat secara manual maupun dengan mesin. Pembuatan cetakan secara manual
dilakukan bila jumlah komponen yang akan dibuat jumlahnya terbatas, dan banyak
variasinya. Pembuatan cetakan tangan dengan dimensi yang besar dapat
menggunakan campuran tanah liat sebagai pengikat. Dewasa ini cetakan banyak
dibuat secara mekanik dengan mesin agar lebih presisi serta dapat diproduk
dalam jumlah banyak dengan kualitas yang sama baiknya.
2.
Pembuatan Cetakan Manual Pembuatan cetakan tangan meliputi pembuatan cetakan
dengan kup dan drag, seperti pada gambar di bawah ini: Gambar 2 3. Dimensi
benda kerja yang akan dibuat (a), menutupi permukaan pola dalam rangka cetak
dengan pasir, (b) cetakan siap (c), proses penuangan (d), dan produk pengecoran
(e). Selain pembuatan cetakan secara manual, juga dikenal pembuatan cetakan
dengan mesin guncang, pembuatan cetakan dengan mesin pendesak, pembuatan
cetakan dengan mesin guncang desak, prembuatan cetakan dengan mesin tekanan
tinggi, dan pembuatan cetakan dengan pelempar pasir.
3.
Pengolahan Pasir Cetak
Pasir
cetak yang sudah digunakan untuk membuat cetakan, dapat dipakai kembali dengan
mencampur pasir baru dan pengikat baru setelah kotoran-kotoran dalam pasir
tersebut dibuang. Pasir cetak dapat digunakan berulang-ulang. Setelah digunakan
dalam proses pembuatan suatu cetakan, pasir cetak tersebut dapat diolah kembali
tidak bergantung pada bahan logam cair. Prosesnya dengan cara pembuangan debu
halus dan kotoran, pencampuran, serta pendinginan pasir cetak. Adapun
mesin-mesin yang dipakai dalam pengolahan pasir, antara lain:
a.
Penggiling pasir Penggiling pasir digunakan apabila pasir tersebut menggunakan
lempung sebagai pengikat, sedangkan untuk pengaduk pasir digunakan jika pasir
menggunakan bahan pengikat seperti minyak pengering atau natrium silikat.
b.
Pencampur pasir Pencampur pasir digunakan untuk memecah bungkah-bungkah pasir
setelah pencampuran. Jadi, pasir dari penggiling pasir kadang-kadang diisikan
ke pencampur pasir atau biasanya pasir bekas diisikan langsung ke dalamnya.
c.
Pengayakan Untuk mendapatkan pasir cetak, ayakan dipakai untuk menyisihkan
kotoran dan butir-butir pasir yang sangat kasar. Jenis ayakan ada dua macam,
yaitu ayakan berputar dan ayakan bergetar.
d.
Pemisahan magnetis Pemisahan magnetis digunakan untuk menyisihkan potongan-
potongan besi yang berada dalam pasir cetak tersebut.
e.
Pendingin pasir Dalam mendinginkan pasir, udara pendingin perlu bersentuhan
dengan butir-butir pasir sebanyak mungkin. Pada pendingin pasir pengagitasi,
udara lewat melalui pasir yang diagitasi. Adapun pada pendingin pasir tegak,
pasir dijatuhkan ke dalam tangki dan disebar oleh sebuah sudu selama jatuh,
yang kemudian didinginkan oleh udara dari bawah. Pendingin pasir bergetar
menunjukkan alat di mana pasir diletakkan pada pelat dan pengembangan pasir
efektif.
4.
Pengecoran Cetakan Ekspandable (Expandable Mold Casting)
Expandable
mold casting adalah sebuah klasifikasi generik yang melibatkan pasir, plastiK,
tempurung, gips, dan investment molding (teknik lost-wax). Metode ini
melibatkan penggunaan cetakan sementara dan cetakan sekali pakai.
5.
Pengecoran dengan Pasir (Sand Casting) Pengecoran dengan pasir membutuhkan
waktu selama beberapa hari dalam proses produksinya dengan hasil rata-rata
(1-20 unit/jam proses pencetakan) dan proses pengecoran dengan bahan pasir ini
akan membutuhkan waktu yang lebih lama terutama untuk produksi dalam skala yang
besar. Pasir hijau/green sand (basah) hampir tidak memiliki batas ukuran
beratnya, akan tetapi pasir kering memiliki batas ukuran berat tertentu, yaitu
antara 2.300-2.700 kg. Batas minimumnya adalah antara 0,05-1 kg. Pasir ini disatukan
dengan menggunakan tanah liat (sama dengan proses pada pasir hijau) atau dengan
menggunakan bahan perekat kimia/minyak polimer. Pasir hampir pada setiap
prosesnya dapat diulang beberapa kali dan membutuhkan bahan input tambahan yang
sangat sedikit.
Pada
dasarnya, pengecoran dengan pasir ini digunakan untuk mengolah logam
bertemperatur rendah, seperti besi, tembaga, aluminium, magnesium, dan nikel.
Pengecoran dengan pasir ini juga dapat digunakan pada logam bertemperatur
tinggi, namun untuk bahan logam selain itu tidak akan bisa diproses. Pengecoran
ini adalah teknik tertua dan paling dipahami hingga sekarang. Bentuk-bentuk ini
harus mampu memuaskan standar tertentu sebab bentuk-bentuk tersebut merupakan
inti dari proses pergecoran dengan pasir .

Gambar 2 4. Pengecoran logam pada
cetakan pasir
6.
Pengecoran dengan Gips (Plaster Casting)
Gips
yang tahan lama lebih sering digunakan sebagai bahan dasar dalam produksi
pahatan perunggu atau sebagai pisau pahat pada proses pemahatan batu. Dengan
pencetakan gips, hasilnya akan lebih tahan lama (jika disimpan di tempat
tertutup) dibanding dengan tanah liat asli yang harus disimpan di tempat yang
basah agar tidak pecah. Dalam proses pengecoran ini, gips yang sederhana dan
tebal dicetak, diperkuat dengan menggunakan serat, kain goni, semua itu dibalut
dengan tanah liat asli. Pada proses pembuatannya, gips ini dipindah dari tanah
liat yang lembab, proses ini akan secara tidak sengaja merusak keutuhan tanah
liat tersebut. Akan tetapi ini bukanlah masalah yang serius karena tanah liat
tersebut telah berada di dalam cetakan. Cetakan kemudian dapat digunakan lagi
di lain waktu untuk melapisi gips aslinya sehingga tampak benar-benar seperti
tanah liat asli. Permukaan gips ini selanjutnya dapat diperbarui, dilukis, dan
dihaluskan agar menyerupai pencetak dari perunggu.
Pengecoran
dengan gips hampir sama dengan pengecoran dengan pasir kecuali pada bagian gips
diubah dengan pasir. Campuran gips pada dasarnya terdiri dari 70-80 % gipsum
dan 20-30 % penguat gipsum dan air. Pada umumnya, pembentukan pengecoran gips
ini membutuhkan waktu persiapan kurang dari 1 minggu, setelah itu akan
menghasilkan produksi rata-rata sebanyak 1-10 unit/jam pengecorannya dengan
berat untuk hasil produksinya maksimal mencapai 45 kg dan minimal 30 kg, dan
permukaan hasilnyapun memiliki resolusi yang tinggi dan halus.
Jika
gips digunakan dan pecah, maka gips tersebut tidak dapat diperbaiki dengan
mudah. Pengecoran dengan gips ini normalnya digunakan untuk logam non belerang
seperti aluminium, seng, tembaga. Gips ini tidak dapat digunakan untuk melapisi
bahan-bahan dari belerang karena sulfur dalam gipsum secara perlahan bereaksi
dengan besi. Persiapan utama dalam pencetakan adalah pola yang ada disemprot
dengan film yang tebal untuk membuat gips campuran. Hal ini dimaksudkan untuk
mencegah cetakan merusak pola. Unit cetakan tersebut dikocok sehingga gips dapt
mengisi lubang-lubang kecil di sekitar pola.
Pembentuk pola
dipindahkan setelah gips diatur.
Pengecoran
gips ini menunjukkan kemajuan, karena penggunaan peralatan otomatis dapat
segera digunakan dengan mudah ke sistem robot, karena ketepatan desain
permintaan semakin meningkat yang bahkan lebih besar dari kemampuan manusia.
7.
Pengecoran Gips, Beton, atau Plastik Resin.
Gips
sendiri dapat dilapisi, demikian pula dengan bahan-bahan kimia lainnya seperti
beton atau plastik resin. Bahan-bahan ini juga mengunakan percetakan yang sama
seperti penjelasan di atas (waste mold) atau multiple use piece mold, atau
percetakan yang terbuat dari bahan-bahan yang sangat kecil atau bahan yang
elastis seperti karet latex (yang cenderung disertai dengan cetakan yang
ekstrim). Jika pengecoran dengan gips atau beton maka produk yang dihasilkan
akan seperti kelereng, tidak begitu menarik, kurang transparan dan biasanya
dilukis. Tak jarang hal ini akan memberikan penampilan asli dari logam/batu.
Alternatif untuk mengatasi hal ini adalah lapisan utama akan dibiarkan
mengandung warna pasir sehingga memberikan nuansa bebatuan. Dengan menggunakan
pengecoran beton, bukan pengecoran gips, memungkinkan kita untuk membuat
ukiran, pancuran air, atau tempat duduk luar ruangan. Selanjutnya adalah
membuat meja cuci (washstands) yang menarik, washstands dan shower stalls
dengan perpaduan beraneka ragam warna akan menghasilkan pola yang menarik
seperti yang tampak pada kelereng/ravertine.
Gambar 2 5. Turbin air produk hasil
pengecoran logam
Proses
pengecoran seperti die casting dan sand casting menjadi suatu proses yang
mahal, bagaimanapun juga komponen-komponen yang dapat diproduksi menggunakan
pengecoran investment dapat menciptakan garis-garis yang tak beraturan dan
sebagian komponen ada yang dicetak near net shape sehingga membutuhkan sedikit
atau bahkan tanpa pengecoran ulang.
8.
Pengecoran Sentrifugal (Centrifugal Casting) Pengecoran sentrifugal berbeda
dengan penuangan gravitasi-bebas dan tekanan-bebas karena pengecoran
sentrifugal membentuk dayanya sendiri menggunakan cetakan pasir yang diputar
dengan kecepatan konstan. Pengecoran sentrifugal roda kereta api merupakan
aplikasi awal dari metode yang dikembangkan oleh perusahaan industri Jerman Krupp
dan kemampuan ini menjadikan perkembangan perusahaan menjadi sangat cepat.
9.
Die Casting
Die
casting adalah proses pencetakan logam dengan menggunakan penekanan yang sangat
tinggi pada suhu rendah. Cetakan tersebut disebut die. Rentang kompleksitas die
untuk memproduksi bagian-bagian logam non belerang (yang tidak perlu sekuat,
sekeras, atau setahan panas seperti baja) dari keran cucian sampai cetakan
mesin (termasuk hardware, bagian-bagian komponen mesin, mobil mainan, dsb).
Gambar 2 7. Die casting
Logam
biasa seperti seng dan alumunium digunakan dalam proses die casting. Logam
tersebut biasanya tidak murni melainkan logam logam yang memiliki karakter
fisik yang lebih baik. Akhir-akhir ini suku cadang yang terbuat dari plastik
mulai menggantikan produk die casting banyak dipilih karena harganya lebih
murah (dan bobotnya lebih ringan yang sangat penting khususnya untuk suku
cadang otomotif berkaitan dengan standar penghematan bahan bakar). Suku cadang
dari plastik lebih praktis (terutama sekarang penggunan pemotongan dengan bahan
plastik semakin memungkinkan) jika mengesampingkan kekuatannya, dan dapat
didesain ulang untuk mendapatkan kekuatan yang dibutuhkan.
Terdapat
empat langkah utama dalam proses die casting. Pertama- tama cetakan disemprot
dengan pelicin dan ditutup. Pelicin tersebut membantu mengontrol temperatur die
dan membantu saat pelepasan dari pengecoran.
Logam yang
telah dicetak kemudian disuntikkan pada die di bawah tekanan tinggi. Tekanan
tinggi membuat pengecoran setepat dan sehalus adonan.
Normalnya
sekitar 100 MPa (1000 bar). Setelah rongganya terisi, temperatur dijaga sampai
pengecoran menjadi solid (dalam proses ini biasanya waktu diperpendek
menggunakan air pendingin pada cetakan). Terakhir die dibuka dan pengecoran
mulai dilakukan. Yang tak kalah penting dari injeksi bertekanan tinggi adalah
injeksi berkecepatan tinggi, yang diperlukan agar seluruh rongga terisi,
sebelum ada bagian dari pengecoran yang mengeras. Dengan begitu diskontinuitas
(yang merusak hasil akhir dan bahkan melemahkan kualitas pengecoran) dapat
dihindari, meskipun desainnnya sangat sulit untuk mampu mengisi bagian yang
sangat tebal.
Sebelum
siklusnya dimulai, die harus di-instal pada mesin die pengecoran, dan diatur
pada suhu yang tepat. Pengesetan membutuhkan waktu 1-2 jam, dan barulah
kemudian siklus dapat berjalan selama sekitar beberapa detik sampai beberapa
menit, tergantung ukuran pengecoran. Batas masa maksimal untuk magnesium, seng,
dan aluminium adalah sekitar 4,5 kg, 18 kg, dan 45 kg. Sebuah die set dapat
bertahan sampai 500.000 shot selama masa pakainya, dipengaruhi oleh suhu
pelelehan dari logam yang digunakan. Aluminium biasanya memperpendek usia die
karena tingginya temperatur dari logam cair yang mengakibatkan kikisan cetakan
baja pada rongga. Cetakan untuk die casting seng bertahan sangat lama karena
rendahnya temperatur seng. Sedang untuk tembaga, cetakan memiliki usia paling
pendek dibanding yang lainnya. Hal ini terjadi karena tembaga adalah logam
terpanas.
Seringkali
dilakukan operasi sekunder untuk memisahkan pengecoran dari sisa-sisanya, yang
dilakukan dengan menggunakan trim die dengan power press atau hidrolik press.
Metode yang lama adalah memisahkan dengan menggunakan tangan atau gergaji.
Dalam hal ini dibutuhkan pengikiran untuk menghaluskan bekas gergajian saat
logam dimasukkan atau dikeluarkan dari rongga. Pada akhirnya, metode intensif,
yang membutuhkan banyak tenaga digunakan untuk menggulingkan shot jika
bentuknya tipis dan mudah rusak. Pemisahan juga harus dilakukan dengan
hati-hati.
Kebanyakan die
caster melakukan proses lain untuk memproduksi bahan yang tidak siap digunakan.
Yang biasa dilakukan adalah membuat lubang untuk menempatkan sekrup.
Gambar
2 8. Salah satu produk die casting
10.
Kecepatan Pendinginan Kecepatan di saat pendinginan cor mempengaruhi properti,
kualitas dan mikrostrukturnya. Kecepatan pendinginan sangat dikontrol oleh
media cetakan. Ketika logam yang dicetak dituangkan ke dalam cetakan,
pendinginan dimulai. Hal ini terjadi, karena panas antara logam yang dicetak
mengalir menuju bagian pendingin cetakan. Materi-materi cetakan memindahkan
panas dari pengecoran menuju cetakan dalam kecepatan yang berbeda. Contohnya,
beberapa cetakan yang terbuat dari plaster memungkinkan untuk memidahkan panas
dengan lambat sekali sedangkan cetakan yang keseluruhannya terbuat dari besi
yang dapat mentranfer panas dengan sangat cepat sekali. Pendinginan ini akan
berakhir dengan pengerasan di mana logam cair berubah menjadi logam padat.
Pada
tahap dasar ini, pengecoran logam menuangkan logam ke dalam cetakan tanpa
mengontrol bagaimana pencetakan mendingin dan logam membeku dalam cetakan.
Ketika panas harus dipindahkan dengan cepat, para ahli akan merencanakan
cetakan yang digunakan untuk mencakup penyusutan panas pada cetakan, disebut
dengan chills. Fins bisa juga didesain pada pengecoran untuk panas inti, yang
kemudian dipindahkan pada proses cleaning (juga disebut fetting). Kedua metode
bisa digunakan pada titik-titik lokal pada cetakan dimana panas akan disarikan
secara cepat.
Ketika
panas harus dipindahkan secara pelan, pemicu atau beberapa alas bisa
ditambahkan pada pengecoran. Pemicu adalah sebuah cetakan tambahan yang lebih
luas yang akan mendingin lebih lamban dibanding tempat dimana pemicu
ditempelkan pada pengecoran. Akhirnya, area pengecoran yang didinginkan secara
cepat akan memiliki struktur serat yang bagur dan area yang mendingin dengan
lamban akan memilki struktur serat yang kasar.
Evaluasi
1.
Sebutkan 5 faktor yang mempengaruhi pemilihan bahan
2. Sebutkan 3 pertimabangan untuk
pemilihan bahan dalam kebutuhan khusus 3. Sebutkan 4 sifat mekanik bahan
4. Sebutkan bahan-bahan yang
dimasukkan ke dalam dapur tinggi
5. Jelaskan proses pencairan didalam
dapur tinggi
6. Sebutkan unsure-unsur pada besi
tuang
7. Jelaskan cara pengolahan tembaga
8. Sebutkan macam-macam perlakuan
panas serta sebutkan tujuannya
9. Jelaskan apa yang dimaksud dengan
penerasan permukaan
10.Jelaskan
cara untuk menghilangkan tegangan dalam yang terjadi pada suatubahan akibat
proses pengerasan 

